Sesi paralel
Paralel A - Sains Pertanian
04 Jul 2026 13:00 - 16:30 · Ruang 1
Peran Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Sri dalam Pemanfaatan Lahan Pekarangan di Desa Triyoso
Pertanian dan Teknologi PertanianWening Tyas · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Arjun Naja · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Arjun Naja · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Pemanfaatan lahan pekarangan merupakan salah satu upaya untuk mendukung ketahanan pangan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan rumah tangga. Kelompok Wanita Tani (KWT) berperan penting dalam mendorong perempuan memanfaatkan lahan pekarangan secara produktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Sri dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Desa Triyoso, Kecamatan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari–Maret 2026 menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan penelitian terdiri atas ketua, pengurus, anggota KWT, dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KWT Dewi Sri berperan sebagai kelas belajar, wahana kerja sama, dan unit produksi melalui pertemuan rutin bulanan, kegiatan penyuluhan, serta budidaya tanaman sayuran dan buah-buahan di lahan pekarangan. Pemanfaatan lahan pekarangan memberikan manfaat bagi ketersediaan pangan keluarga dan pengurangan pengeluaran rumah tangga. Faktor pendukung meliputi partisipasi anggota, pendampingan penyuluh, dan ketersediaan lahan, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan waktu, serangan hama, dan kondisi cuaca.
Kata kunci: Ketahanan Pangan, Kelompok Wanita Tani, Lahan Pekarangan, Pemberdayaan Perempuan, Pemanfaatan Lahan
Potensi Penggunaan Pestisida Nabati Berbahan Tembakau Dalam Pengendalian Hama Kutu Kebul Pada Tanaman Terong
Pertanian dan Teknologi PertanianDina Tri Utami · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Wening Tyas · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Tanaman terong (Solanum melongena L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan, namun produktivitasnya sering menurun akibat serangan hama kutu kebul. Salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan adalah penggunaan pestisida nabati berbahan tembakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi penggunaan pestisida nabati berbahan tembakau dalam mengendalikan hama kutu kebul pada tanaman terong. Penelitian dilaksanakan di lahan praktik kampus B Universitas Nurul Huda, Sukaraja, Buay Madang, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan. Waktu penelitian dimulai pada bulan Maret 2026 sampai Juni 2026. Metode yang digunakan adalah eksperimen lapangan dengan pendekatan metode deskriptif melalui pengamatan langsung terhadap pertumbuhan tanaman, perkembangan hama, dan hasil produksi tanaman selama masa budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pestisida nabati tembakau mampu diindikasi membantu menekan perkembangan kutu kebul sehingga tanaman tetap tumbuh dan berproduksi dengan baik. Tinggi tanaman meningkat dari 12,5 cm pada umur 14 hari setelah tanam menjadi 88,5 cm pada umur 70 hari setelah tanam. Tanaman juga mampu menghasilkan 25 buah terong dengan total berat panen 10,2 kg selama tiga kali pemanenan. Dengan demikian, pestisida nabati berbahan tembakau berpotensi digunakan sebagai alternatif pengendalian kutu kebul yang ramah lingkungan pada budidaya tanaman terong.
Kata kunci: Kutu Kebul, Pengendalian Hama, Pestisida Nabati, Tembakau, Terong.
Respon Pemberian POC Air Cucian Beras Terhadap Produksi Tanaman Pare (Momordica Charantia L.)
Pertanian dan Teknologi PertanianAnton Saputra · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Achmad Muzacky · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Wening Tyas · Univesitas Nurul Huda , Indonesia
Tanaman pare adalah sebuah produk hortikultura yang memiliki peningkatan nilai ekonomi dan manfaat kesehatan. Namun, ada potensi untuk meningkatkan produktivitasnya lewat pemupukan yang sesuai. Air cucian beras bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair karena kaya akan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman dan mudah ditemukan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan pupuk organik cair dari air cucian beras terhadap hasil panen tanaman pare (Momordica charantia L. ) di lahan praktik Universitas Nurul Huda. Penelitian dilakukan dari tanggal 31 Maret sampai 30 Mei 2026 dengan penerapan Rancangan Acak Lengkap satu faktor dan 4 perlakuan, yaitu kontrol, serta konsentrasi 10%, 20%, dan 30%, yang masing-masing dilakukan sebanyak empat kali. Parameter yang dicatat mencakup jumlah buah dan berat segar buah. Penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya konsentrasi pupuk organik cair cenderung berpengaruh positif terhadap produktivitas tanaman pare. Perlakuan dengan konsentrasi 30% menghasilkan rata-rata jumlah dan berat buah tertinggi, yaitu 10 buah dan 435 gram, sedangkan perlakuan kontrol menghasilkan 5 buah dan 210 gram. Oleh karena itu, pupuk organik cair yang berasal dari air cucian beras terbukti efektif dalam meningkatkan hasil tanaman pare dan bisa menjadi alternatif pupuk organik yang ekonomis serta ramah lingkungan.
Kata kunci: Air Cucian Beras, Hortikultura, Hasil Tanaman Pare, Pupuk Organik Cair
Pengaruh Kombinasi Pupuk MKP dan KNO₃ Terhadap Produktivitas Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.)
Pertanian dan Teknologi PertanianDeni Ahmad Sunanda · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Wening Tyas · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Febbi Kurniawan · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Produktivitas tanaman cabai besar (Capsicum annuum L.) sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara yang berperan dalam menunjang proses pertumbuhan vegetatif maupun generatif tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian pupuk MKP (Mono Kalium Phosphate) dan KNO₃ (Kalium Nitrat) terhadap pertumbuhan serta hasil produksi tanaman cabai besar. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu mulai tanggal 1 April 2026 hingga 3 Juni 2026, bertempat di Desa Tanah Merah, Kecamatan Belitang Madang Raya, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dosis pupuk, yaitu P0 (0 g/L), P1 (5 g/L), P2 (10 g/L), dan P3 (15 g/L), dengan tiga kali ulangan. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah bunga, tingkat kerontokan bunga, jumlah buah, berat buah, panjang buah, serta diameter buah. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA), kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% apabila terdapat pengaruh antarperlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk MKP dan KNO₃ memberikan perbedaan respons terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai besar. Perlakuan P3 dengan dosis 15 g/L menunjukkan hasil terbaik pada sebagian besar parameter pengamatan, dengan rata-rata tinggi tanaman sebesar 42,67 cm, jumlah bunga pada minggu ketiga sebanyak 168 bunga, jumlah buah sebanyak 31 buah, berat total buah sebesar 331,7 g, panjang buah rata-rata 15,83 cm, serta diameter buah rata-rata 2,50 cm. Selain itu, perlakuan P3 juga menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mempertahankan bunga selama fase generatif dibandingkan perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian, pemberian pupuk MKP dan KNO₃ dengan dosis 15 g/L merupakan perlakuan yang paling optimal dalam mendukung pertumbuhan dan peningkatan hasil tanaman cabai besar.
Kata kunci: Cabai besar, Hasil tanaman, KNO₃, MKP, Pertumbuhan tanaman.
PENGARUH EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP HAMA TOMAT RANGGAM (Solanum lycopersicum L.)
Pertanian dan Teknologi PertanianAlysanurin Dwimarga · universitas Nurul Huda , Indonesia
Wening Tyas · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Irma Lestari · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Tanaman tomat ranggam (Solanum lycopersicum L.) merupakan komoditas hortikultura yang rentan terhadap serangan hama sehingga pertumbuhan dan produktivitasnya dapat menurun. Pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan dapat dilakukan melalui pemanfaatan pestisida nabati berbahan bawang putih (Allium sativum L.). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penyemprotan ekstrak bawang putih terhadap intensitas serangan hama pada tanaman tomat ranggam. Penelitian dilaksanakan di Kampus B Universitas Nurul Huda pada 24 April sampai 13 Juni 2026. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasi pada delapan tanaman tomat ranggam yang diberi penyemprotan ekstrak bawang putih secara berkala. Data diperoleh melalui observasi langsung dan pencatatan logbook, kemudian dianalisis berdasarkan jumlah tanaman yang mengalami kerusakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat tanaman (50%) tumbuh baik, dua tanaman (25%) mengalami daun menguning dan layu, serta dua tanaman (25%) mengalami pembusukan. Intensitas serangan hama berdasarkan jumlah tanaman rusak sebesar 50%. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih berpotensi menekan serangan hama, tetapi efektivitasnya belum optimal sehingga diperlukan pengaturan konsentrasi dan frekuensi aplikasi pada penelitian lanjutan.
Kata kunci: ekstrak bawang putih; hama tanaman; pestisida nabati; tomat ranggam.
Pengaruh Pupuk Organik Cair (Urine Kambing) terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabe Japlak
Pertanian dan Teknologi PertanianAldy Dwi Thamma , Indonesia
Cabai japlak (Capsicum Frutescens L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi dan banyak dibudidayakan karena permintaan pasarnya relatif stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair (POC) Exapet terhadap pertumbuhan tanaman cabai japlak. Penelitian dilaksanakan pada 6 April sampai 30 Juni 2026 di lahan praktik Kampus B Universitas Nurul Huda, Sukaraja, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu P0, P1, P2, dan P3, masing-masing diulang empat kali. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun sebagai indikator pertumbuhan vegetatif. Pengamatan dilakukan secara berkala selama masa penelitian untuk melihat respons tanaman terhadap pemberian POC Exapet. Data dianalisis secara deskriptif dan diuji menggunakan analisis varians, kemudian dilanjutkan dengan uji BNT 5% jika terdapat perbedaan nyata antarperlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POC Exapet tidak memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan cabai japlak. Perlakuan P0 menghasilkan tinggi tanaman tertinggi yaitu 11,95 cm, sedangkan perlakuan P3 menghasilkan tinggi tanaman terendah yaitu 6,55 cm. Pada parameter jumlah daun, P0 menghasilkan 8,25 helai, sedangkan P3 hanya 3,25 helai. Hasil ini menunjukkan bahwa POC Exapet belum efektif dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatif cabai japlak dan justru cenderung menyebabkan tanaman tumbuh kerdil.
Kata kunci: Cabai Japlak, Pertumbuhan Tanaman, Tanaman Kerdil, POC Exapet
EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN TERONG (Solanum melongena L.)
Pertanian dan Teknologi PertanianNabila Oktavia · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Wening Tyas · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Tanaman terong ungu (Solanum melongena L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi dan banyak dibudidayakan masyarakat, namun produktivitasnya dapat terganggu oleh serangan penyakit layu Fusarium. Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dilakukan yaitu penggunaan bahan alami berupa ekstrak bawang putih. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui penerapan ekstrak bawang putih dalam membantu mengendalikan penyakit layu Fusarium pada tanaman terong. Kegiatan dilaksanakan di lahan praktik Program Studi Pertanian Universitas Nurul Huda selama masa budidaya tanaman. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif melalui observasi, dokumentasi, pencatatan data, dan pengamatan langsung di lapangan. Pembuatan ekstrak dilakukan menggunakan bawang putih yang diaplikasikan secara berkala pada tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman tetap mampu tumbuh dengan cukup baik hingga fase pembentukan buah dan panen meskipun masih ditemukan gejala penyakit pada beberapa tanaman. Penggunaan ekstrak bawang putih membantu menjaga kondisi kesehatan tanaman selama masa budidaya. Dengan demikian, ekstrak bawang putih berpotensi digunakan sebagai alternatif pengendalian penyakit yang lebih ramah lingkungan pada budidaya tanaman terong
Kata kunci: Ekstrak Bawang Putih, Layu Fusarium, Tanaman Terong, Budidaya, Pengendalian Penyakit
IDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA TANAMAN TERUNG (Solanum melongena L.)
Pertanian dan Teknologi PertanianFebbi Kurniawan · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Fitri Novita Sari · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Wening Tyas · Universitas Nurul Huda , Indonesia
Tanaman terung (Solanum melongena L.) merupakan komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi dan gizi tinggi, namun produktivitasnya sering menurun akibat serangan hama dan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman terung serta menganalisis intensitas serangannya serta mengetahui penyakit dan hama yang menyerang pada saat budidaya tanaman terung agar terhindar dari gagal panen dan kerugian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2026 sampai dengan bulan Juni 2026 di lahan praktik Program Studi Sains Pertanian Universitas Nurul Huda, Desa Tanah Merah, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah observasi langsung. Data dikumpulkan melalui pengamatan gejala serangan pada tanaman dan dianalisis menggunakan perhitungan intensitas serangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit yang ditemukan adalah bercak daun yang disebabkan oleh Cercospora sp. dan antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. Intensitas serangan bercak daun mencapai 29% (kategori sedang), sedangkan antraknosa sebesar 1,85% (kategori ringan). Hama yang ditemukan yaitu belalang (Oxya spp.) dan kumbang koksi (Epilachna sparsa). Intensitas serangan belalang sebesar 36% dan kumbang koksi sebesar 31,48%, keduanya termasuk kategori sedang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bercak daun dan belalang merupakan organisme pengganggu utama pada tanaman terung di lokasi penelitian sehingga diperlukan pengendalian yang tepat untuk menjaga produktivitas tanaman.
Kata kunci: Belalang, Bercak daun, Intensitas serangan, Penyakit tanaman, Terung